 |
| Guru Muhir_Pendiri Repoq Literasi, Lombok Timur |
Di suatu senja yang lembut, ketika garis cakrawala mengabur antara
langit dan laut, Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berjalan menyusuri bibir
pantai. Pasir dingin menyentuh telapak kakinya, ombak berbisik pelan seolah
menyimpan rahasia yang tak pernah diucapkan. Tak seorang pun mengenalinya. Ia
hadir dalam tubuh manusia biasa, tanpa sinar keagungan, tanpa tanda-tanda
asalnya yang luhur.
Mereka yang berpapasan hanya menangkap siluet seorang wanita cantik
yang hampir sempurna, langkahnya tenang, tatapannya jauh menembus samudra. Tak
ada yang menyangka bahwa di balik wajah yang sederhana itu berdiam kekuatan
purba dan kebijaksanaan yang telah melintasi zaman. Di pantai yang sunyi itu,
Dewi Anjani membiarkan dirinya larut dalam kefanaan, menikmati dunia
sebagaimana manusia memandangnya, tanpa puja, tanpa takut, hanya angin, ombak,
dan rahasia yang setia menemaninya.
Langkahnya melambat. Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani menunduk,
memandangi serpihan-serpihan asing yang terseret ombak ke pasir: plastik kusam,
potongan jaring yang koyak, sisa-sisa dunia yang kehilangan kepedulian. Dadanya
terasa sesak, bukan oleh lelah, melainkan oleh keprihatinan yang mengendap
lama.
"Beginikah rupa
titipan yang dulu dijaga dengan doa dan rasa hormat?" Suara itu tak terucap, namun bergema jelas di ruang batinnya.
Ia mengangkat wajah, menatap laut yang dulu jernih seperti cermin
langit."Wahai manusia’, bisiknya
dalam hati, “tanganmu mampu membangun
peradaban, tetapi mengapa ia juga begitu ringan melukai ibu yang
menghidupimu?"
Angin pantai menyibakkan rambutnya, seolah menjawab dengan keluhan
panjang. “Hutan kau tebang tanpa jeda,
gunung kau koyak demi keserakahan sesaat. Sungai kau jadikan tempat membuang
lupa, lalu kau heran ketika air tak lagi memberi kehidupan.”
Setiap langkah terasa seperti menapaki luka. “Apakah kau tak lagi mendengar napas alam? Ataukah hatimu telah
terlampau bising oleh keinginanmu sendiri?”
Namun di balik keprihatinan itu, Shang Dyah masih menyimpan seberkas
harap. ”Jika tangan manusia mampu
merusak, ia pun mampu menyembuhkan,” gumamnya lirih dalam batin. “Asal mereka mau kembali mengingat: bahwa
mereka bukan penguasa, melainkan bagian dari semesta”.
Ombak kembali menyentuh kakinya, dan ia melangkah maju, membawa
duka, doa, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.
Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berhenti sejenak. Pandangannya
kosong, menembus garis ombak yang pecah lalu hilang, seperti kesadaran manusia
yang datang sebentar lalu lenyap tanpa jejak.
“Kasihan… sungguh kasihan
kalian,” ucapnya dalam batin, tanpa nada marah,
hanya kelelahan yang dalam.
“Kalian menangis pada
banjir, mengutuk panas, menyalahkan takdir dan langit, namun tak pernah sungguh
berani bercermin.”
Ia menarik napas perlahan. “Betapa
mudahnya jari-jari itu menunjuk ke luar, tetapi betapa beratnya mengarah ke
dada sendiri.”
Di hadapan matanya terbayang wajah-wajah manusia: cemas, marah,
putus asa. “Kalian bertanya mengapa
bumi tak lagi ramah, tanpa menyadari bahwa kaki kalianlah yang menginjaknya
tanpa rasa. Kalian mengeluh alam tak setia, padahal kalian lebih dahulu
mengkhianatinya.”
Ada iba yang menghangatkan sekaligus melukai.“Andai kalian tahu,
bisiknya dalam hati, bahwa alam tak pernah berniat menghukum. Ia hanya
merespons. Ia hanya memantulkan apa yang kalian lakukan kepadanya.”
Langkahnya kembali bergerak, lebih pelan dari sebelumnya.“Kalian adalah anak-anak
semesta yang lupa asal-usulnya, lanjut suara batin itu. Lupa bahwa setiap pohon
yang tumbang, setiap laut yang tercemar, sesungguhnya adalah bagian dari diri
kalian sendiri yang ikut runtuh.”
Ia menunduk, seolah memberi hormat pada pasir dan ombak. “Namun bagaimana mungkin kesadaran tumbuh,
jika kesalahan selalu dilemparkan pada nasib?” Gumamnya dalam hati
Di antara rasa kasihan itu, Shang Dyah menyimpan kesunyian yang
pahit; “Manusia bukan tak mampu memahami.
Mereka hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa kerusakan ini… adalah karya
tangan mereka sendiri.”
Ketika gumam batin itu masih bergetar pelan di dalam dadanya, suara
lain menyusup dari kejauhan. Suara manusia, nyata, serak oleh usia dan asin
laut. Tak jauh darinya, dua orang nelayan setengah baya duduk di atas perahu
kayu yang catnya mulai terkelupas. Tangan mereka cekatan merapikan jaring,
meski gerakannya tak lagi sekuat dulu.
“Sedikit sekali hari ini,” ujar yang satu, menghela napas panjang
sambil menggulung tali.
“Iya,” sahut temannya lirih, “bahkan tak cukup buat beli solar
besok.”
Mereka terdiam sejenak, hanya bunyi jaring yang bergesek dan ombak
yang memukul lambung perahu. “Ingat waktu kita masih kecil?” lanjut nelayan pertama. “Bapak kita
pulang sebelum matahari tinggi, perahu penuh ikan. Kita sampai kewalahan bantu
nurunin.”
Yang lain tersenyum pahit. “Sekarang? Setengah hari di laut,
hasilnya segini.” Ia mengangkat jaring yang nyaris kosong. “Lautnya sudah bukan
laut yang dulu.”
Percakapan itu membuat langkah Shang Dyah melambat. Ia merapat,
berpura-pura hanya seorang pejalan yang menikmati senja, namun telinganya
menangkap setiap kata.
“Sejak pantai dipagari tambak udang itu,” gerutu nelayan pertama,
suaranya menurun, “air jadi lain. Mangrove habis, ikan entah ke mana.”
“Iya,” jawab temannya, nada suaranya getir. “Katanya demi kemajuan.
Tapi kita yang di laut ini malah mundur.”
Ada jeda panjang. Angin membawa bau lumpur tambak yang asing bagi
laut. Shang Dyah berdiri tak jauh dari mereka, hatinya bergetar. Gerutu kecil
itu, sederhana dan jujur, terdengar lebih tajam daripada ratapan panjang. Ia
menyimak dalam diam, menyadari bahwa tanpa mereka sadari, kedua nelayan itu
sedang mengucapkan kebenaran yang selama ini dihindari banyak manusia.
Ombak kembali memecah di pasir. Dan Shang Dyah, kian mendekat,
mendengarkan namun bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan seluruh
keprihatinan yang bersemayam di dalam dirinya. Kedua nelayan itu kembali terdiam, seolah pikiran mereka sama-sama
terseret ke arah pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban utuh. Di wajah
mereka tergambar kebingungan yang lama dipendam.
“Entah kenapa ya,” gumam salah satu dari mereka sambil menatap laut,
“sejak tambak itu jalan beberapa tahun lalu, ikan makin jarang. Padahal lautnya
masih di sini, ombaknya masih sama.”
“Iya,” sahut yang lain pelan. “Rasanya ada yang berubah, tapi kita
nggak paham betul apa. Kita ini cuma nelayan, taunya melaut, bukan
hitung-hitungan tambak.”
Mereka menggeleng, pasrah pada ketidaktahuan yang terasa
menyesakkan. Ada jarak antara apa yang mereka alami dan apa yang mereka pahami;
jarak yang membuat keluhan hanya berhenti sebagai gerutu.
Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani, yang sejak tadi menyimak,
melangkah lebih dekat. Ia menyamarkan kegundahan batinnya, membiarkan wajahnya
tampil sebagai perempuan biasa yang singgah di pantai menjelang senja. “Permisi,” sapanya lembut, disertai
senyum tipis. “Sepertinya laut hari ini
kurang ramah, ya?”
Kedua nelayan itu menoleh.“Ah, iya, Naken,” jawab salah satu dari
mereka, ramah meski letih. “Akhir-akhir ini memang begitu. Ikan susah dicari.”
Shang Dyah mengangguk pelan, seolah hanya ikut merasakan. “Dari dulu
juga begini?” tanyanya basa-basi, nada suaranya ringan, namun matanya menyimpan
perhatian yang dalam. “Tidak,” jawab nelayan yang lain. “Dulu laut ini murah
hati. Sekarang… entahlah.”
Shang Dyah berdiri di antara mereka dan laut, membiarkan percakapan
itu mengalir. Dalam diam, ia tahu, inilah celah kecil tempat kesadaran bisa
mulai bersemi; dari obrolan sederhana, dari tanya yang jujur, dari
manusia-manusia yang sesungguhnya hanya ingin hidup berdamai dengan alam.
Shang Dyah tersenyum kecil, lalu menatap laut sejenak sebelum
kembali memandang kedua nelayan itu. Suaranya tetap lembut, namun kini berisi,
seolah setiap kata telah lama disusun dengan pengetahuan yang matang.
“Sebenarnya,” ujarnya perlahan, “tambak udang tidak hanya mengambil
ruang di pesisir. Dalam prosesnya, tambak menghasilkan limbah cair yang kembali
mengalir ke laut.” Ia berhenti sejenak, memastikan mereka mendengarkan.
“Air buangan itu biasanya mengandung sisa pakan, kotoran udang,
serta zat kimia seperti amonia, nitrat, dan fosfat. Jika jumlahnya kecil, laut
masih bisa menyesuaikan diri. Tetapi jika dibuang terus-menerus dan tanpa
pengolahan, zat-zat itu akan mengubah kualitas air.”
Kedua nelayan itu saling pandang, lalu kembali menatapnya. “Perubahan
ini,” lanjut Shang Dyah, “menyebabkan eutrofikasi. Fitoplankton tumbuh
berlebihan, oksigen terlarut di air menurun, dan biota laut yang membutuhkan
oksigen tinggi, termasuk ikan-ikan tangkapan Bapak, perlahan menjauh atau
mati.”
Ia menunjuk ke arah garis pantai yang kini tertutup pagar tambak. “Belum
lagi hilangnya mangrove. Padahal mangrove adalah tempat pemijahan dan
pembesaran banyak jenis ikan dan udang liar. Ketika mangrove rusak, siklus
hidup biota laut ikut terputus.”
Nada suaranya tetap tenang, nyaris seperti dosen yang menjelaskan di
ruang kuliah terbuka, dengan laut sebagai papan tulisnya. “Jadi bukan laut yang
pelit,” simpulnya pelan. “Lingkungannya saja yang berubah, sehingga tidak lagi
mampu mendukung kehidupan seperti dulu.”
Kedua nelayan itu terdiam lama. Di wajah mereka tampak keterkejutan
yang bercampur pemahaman baru. Shang Dyah menunduk ringan, seolah tak ingin
terlihat menggurui. “Ini bukan kesalahan satu dua orang,” tambahnya lembut.
“Ini soal bagaimana manusia sering lupa bahwa laut adalah sistem hidup yang
saling terhubung. Jika satu bagian dilukai, bagian lain akan ikut merasakan.”
Ombak kembali datang dan surut, seakan mengamini penjelasan itu. Dan
di senja yang semakin meredup, benih kesadaran mulai tumbuh, pelan namun nyata,
di antara kata-kata yang akhirnya menemukan maknanya.
Senja perlahan menanggalkan warna keemasannya. Langit yang tadi
berpendar hangat kini berangsur gelap, memasuki gerbang petang yang pekat dan
sunyi. Garis laut dan langit menyatu dalam bayang kebiruan, sementara
lampu-lampu kecil di perahu mulai dinyalakan satu per satu, berkelip seperti
kunang-kunang yang kelelahan.
Shang Dyah menatap perubahan itu dengan diam. Di balik wajah
tenangnya, pikirannya bergerak lebih jauh. Bagaimana kehidupan mereka di darat?
batinnya bertanya. Bagaimana keluarga yang menunggu di rumah, menggantungkan harap
pada laut yang kian menua?
Ia memandang kembali dua nelayan itu. Kerut di wajah mereka bukan
hanya milik angin dan matahari, melainkan juga beban yang dipikul
bertahun-tahun. Ada dorongan halus dalam dirinya untuk melihat lebih dekat,
bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai saksi kehidupan.
Shang Dyah pun sedikit memajukan langkah, berusaha menarik perhatian
mereka tanpa kesan memaksa. “Petangnya cepat sekali gelap,” ujarnya sambil
menatap langit. “Biasanya kalau sudah begini, rumah pasti sudah menunggu.”
Salah satu nelayan tersenyum tipis. “Iya, Naken. Istri sudah pasti resah kalau kami pulang kemalaman.” “Apa rumahnya jauh dari sini?” tanya Shang Dyah, nada suaranya
ringan, seperti obrolan biasa yang lahir dari keakraban mendadak.
“Tidak terlalu,” jawab yang lain. “Masih di kampung pesisir, tak
jauh dari tambak itu.
”Shang Dyah mengangguk pelan, lalu tersenyum hangat.
“Kebetulan saya belum tahu jalan di sekitar sini,” katanya, sedikit
merendahkan suara. “Kalau tidak keberatan, boleh saya ikut sampai ke kampung?
Sekalian ingin mengenal kehidupan nelayan lebih dekat.”
Kedua nelayan itu saling berpandangan, lalu mengangguk. “Boleh saja,” kata salah satu dari mereka. “Anggap saja jalan pulang
bertiga.”
Di bawah langit yang kian gelap, Shang Dyah melangkah bersama
mereka. Dalam hati, ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar menuju sebuah rumah
sederhana, melainkan menuju kisah manusia yang ingin ia pahami sepenuhnya; dari
laut hingga ke ruang paling sunyi dalam kehidupan mereka.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah panggung kecil yang
berdiri rapuh di tepi kampung pesisir. Kayunya kusam, beberapa bagian tampak
lapuk dimakan usia dan udara asin. Begitu kedua nelayan itu mendekat, pintu
rumah terbuka. Tiga orang anak berlarian keluar, wajah mereka cerah meski
pakaian sederhana melekat di tubuh mungil itu. Di belakang mereka, seorang
wanita menyusul, menyeka tangan di kain sarung, matanya memancarkan lega.
“Bapak pulang,” ujar wanita itu lirih namun hangat.
Shang Dyah berhenti sejenak, menyaksikan pemandangan itu dengan dada
yang terasa menghangat sekaligus perih. Anak-anak itu menatapnya penuh rasa
ingin tahu, sementara sang ibu tersenyum sopan.
“Maaf, Bu,” kata Shang Dyah dengan suara halus, sedikit menundukkan
kepala. “Bolehkah saya menumpang sholat Magrib?”
Wanita itu tampak terkejut sejenak, lalu mengangguk cepat. “Tentu,
silakan. Rumah kami sederhana, tapi semoga cukup.”
Shang Dyah mengucapkan terima kasih. Saat diarahkan ke bagian
belakang rumah untuk mengambil air wudhu, langkahnya melambat. Ia menyusuri
lantai kayu yang berderit pelan, melewati dinding-dinding tipis yang tak
sepenuhnya menahan angin malam. Di halaman belakang, sebuah sumur tua berdiri
miring, dikelilingi ember plastik yang retak dan tanah becek bercampur pasir.
Pandangan Shang Dyah menyapu sekitar. Rumah itu jauh dari kata layak
huni. Atapnya rendah, beberapa genting tampak bergeser. Tak ada sekat yang
jelas antara ruang tidur dan dapur. Namun di tengah keterbatasan itu, terasa
ketekunan dan ketabahan yang diam-diam tumbuh.
Sambil membasuh wajah dan tangannya dengan air dingin, Shang Dyah
menunduk. Bukan karena air, melainkan karena rasa yang menekan di dalam
dadanya. Beginikah harga dari laut yang terluka? batinnya bergumam.
Manusia-manusia yang setia menjaganya justru hidup dalam kekurangan.
Air wudhu menetes dari jemarinya ke tanah. Dan di balik tubuh
manusianya yang sederhana, Shang Dyah menyimpan tekad yang kian menguat, lahir
dari apa yang baru saja ia saksikan di rumah kecil itu.
Usai sholat Magrib, rumah kecil itu dipenuhi suasana yang hangat dan
sederhana. Lampu minyak menyala temaram, memantulkan cahaya kekuningan pada
dinding kayu yang kusam. Shang Dyah duduk bersila bersama keluarga nelayan itu.
Anak-anak berkumpul di dekat ibunya, saling berdesakan, sesekali mencuri
pandang ke arah tamu yang mereka anggap istimewa meski tak tahu alasannya.
Sang istri menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus di atas piring
enamel yang pinggirnya terkelupas. “Maaf seadanya,” ucapnya lirih.
“Terima kasih,” jawab Shang Dyah tulus, senyumnya hangat, tangannya
menerima suguhan itu dengan penuh hormat.
Percakapan mengalir perlahan. Tentang laut, tentang cuaca, tentang
hari-hari yang kian berat. Salah satu nelayan mulai bercerita, suaranya datar
namun sarat kelelahan.
“Sekarang melaut bukan soal berani lagi,” katanya. “Kadang kami
sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap tak cukup.”
Istrinya menunduk, jemarinya meremas ujung kain. “Anak-anak tetap
harus sekolah,” katanya pelan. “Kadang kami harus memilih, beli beras atau
bayar buku.”
Anak-anak itu terdiam, seolah sudah terlalu akrab dengan kata-kata
semacam itu. Salah satu dari mereka mendekat ke ayahnya, bersandar tanpa suara.
Shang Dyah mendengarkan dengan saksama. Wajahnya tetap tenang,
matanya lembut, namun di dalam batinnya sesuatu runtuh perlahan. Inilah akibat
dari kerusakan yang tak pernah mereka lakukan, jerit hatinya lirih. Mereka
membayar harga dari keserakahan yang bukan milik mereka.
Ia menahan napas, menelan getir yang naik ke dadanya. Betapa kejam
dunia ketika yang paling setia justru yang paling menderita. Tangis itu tak
pernah sampai ke wajahnya, namun di dalam, batinnya menangis pedih, tersedu
tanpa suara.
Di tengah kisah-kisah sederhana itu, tawa kecil anak-anak sesekali
pecah, menyingkap keteguhan yang tak tergoyahkan oleh kemiskinan. Dan di
sanalah Shang Dyah duduk, menyaksikan cinta, ketabahan, dan luka yang hidup
berdampingan dalam satu ruang sempit.
Malam kian pekat di luar, namun di dalam rumah kecil itu, api
kehidupan tetap menyala. Shang Dyah menunduk pelan, menyimpan semua kisah itu
dalam hatinya, bersumpah dalam diam bahwa penderitaan ini tak akan dibiarkan
berlalu tanpa makna.
Malam semakin larut ketika Shang Dyah perlahan berdiri. Ia merogoh
saku, menatap layar ponselnya, lalu berpura-pura menekan beberapa angka.
Suaranya dibuat pelan namun cukup terdengar.
“Iya… aku sudah selesai,” katanya seolah berbicara dengan seseorang
di seberang sana. “Tolong jemput aku di pantai tempat tadi kamu menurunkanku.”
Ia menutup panggilan itu dengan senyum kecil, lalu menoleh kepada
keluarga nelayan tersebut. “Sepertinya saya harus pamit,” ucapnya lembut.
“Teman saya akan menjemput di pantai.”
Sang istri bangkit tergesa. “Sudah malam, Naken. Terima kasih sudah singgah.”
Shang Dyah mengangguk hormat. Namun sebelum melangkah pergi, ia
membuka ransel hitam pekat yang sejak tadi setia di punggungnya. Dari dalamnya,
ia mengeluarkan dua helai kaos berwarna merah menyala, masih terlipat rapi.
Warna itu tampak kontras di bawah cahaya lampu minyak yang redup.
“Ini… sedikit oleh-oleh,” katanya sambil menyerahkan kaos itu kepada
sang nelayan. “Semoga bisa dipakai.”
Nelayan itu tampak kikuk, tangannya ragu menerima. “Wah, ini terlalu—”
“Tidak apa-apa,” potong Shang Dyah lembut, senyumnya menenangkan. Lalu ia mendekat kepada sang istri, menyelipkan sejumlah uang ke
dalam genggaman tangannya. Gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. “Untuk keperluan anak-anak,” bisiknya pelan.
Mata wanita itu berkaca-kaca. Ia hendak berkata sesuatu, namun Shang
Dyah hanya menggeleng perlahan, memohon agar tak ada penolakan.
Anak-anak memandang dengan mata bulat, tak sepenuhnya mengerti,
namun merasakan hangatnya perpisahan itu.
Mereka mengantar Shang Dyah hingga ke gerbang kecil dari bambu yang
berdiri miring di depan rumah. Angin malam menyapa lembut, membawa aroma laut
yang pekat.
“Hati-hati di jalan, Naken,” ujar sang nelayan.
Shang Dyah menunduk hormat, lalu melangkah pergi. Dari balik bayang
malam, ia sempat menoleh sekali lagi. Rumah kecil itu berdiri sunyi, namun di
dalamnya tersimpan harapan yang rapuh dan doa-doa yang tak pernah berhenti.
Ia melanjutkan langkah menuju pantai stelah menorehkan ujung
pemajanya pada lambung sampan sang nelayan; tubuhnya menjauh, namun hatinya tertinggal; bersama
keluarga nelayan yang baru saja ia temui, dan janji sunyi yang kini kian
menguat di dalam dirinya. Berambung pekan depan