www.okenews.net

Berita Utama

Politik

Sosial



 


Video

Senin, 26 Januari 2026

Perkuat Good Governance, BPN Lombok Utara Gelar Internalisasi SPIP dan Manajemen Risiko 2026

Kantor Pertanahan Lombok Utara

Okenews.net – Dalam upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional, Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara melaksanakan kegiatan Internalisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), Manajemen Risiko, serta Penyusunan Risk Register Tahun 2026. Kegiatan tersebut digelar pada Kamis (22/01/2026) dan diikuti oleh seluruh Pejabat Pengawas serta Koordinator Substansi (Korsub) di lingkungan Kantor Pertanahan Lombok Utara.

Internalisasi ini menjadi langkah strategis untuk memastikan seluruh proses bisnis dan pelayanan pertanahan berjalan secara efektif, efisien, transparan, dan akuntabel. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan mengidentifikasi serta memetakan berbagai potensi risiko yang dapat menghambat pencapaian target dan tujuan organisasi.

Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara, Muhammad Shaleh Basyarah, menegaskan bahwa penerapan SPIP dan manajemen risiko bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan bagian penting dari budaya kerja aparatur.

“Melalui internalisasi SPIP dan penyusunan risk register ini, kami ingin seluruh jajaran memiliki kesadaran risiko dalam setiap pelaksanaan tugas. Dengan pengendalian intern yang kuat, potensi penyimpangan dapat diminimalkan dan kinerja organisasi dapat terus ditingkatkan,” ujar Muhammad Shaleh Basyarah.

Ia menambahkan, penyusunan Risk Register Tahun 2026 menjadi instrumen penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan, agar setiap program dan kegiatan yang dijalankan memiliki mitigasi risiko yang jelas dan terukur.

“Kami berkomitmen memperkuat sistem pengendalian intern secara berkelanjutan, sehingga pelayanan pertanahan kepada masyarakat semakin berkualitas, akuntabel, dan terpercaya,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara berharap mampu membangun budaya sadar risiko di seluruh lini organisasi, sekaligus mendukung tercapainya tujuan pembangunan dan pelayanan pertanahan yang berintegritas.

Minggu, 25 Januari 2026

JEJAK SHANG DYAH (Episode 02)

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani (foto ilustrasi AI)
Jejak adalah bahasa sunyi yang ditinggalkan langkah; ia mungkin terhapus oleh waktu, namun maknanya tetap tinggal, meresap ke bumi, menjadi saksi bahwa seseorang pernah hadir, pernah peduli, dan pernah berjanji pada semesta.

Oleh : AM PUPU
Guru Muhir_Pendiri Repoq Literasi, Lombok Timur
Di suatu senja yang lembut, ketika garis cakrawala mengabur antara langit dan laut, Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berjalan menyusuri bibir pantai. Pasir dingin menyentuh telapak kakinya, ombak berbisik pelan seolah menyimpan rahasia yang tak pernah diucapkan. Tak seorang pun mengenalinya. Ia hadir dalam tubuh manusia biasa, tanpa sinar keagungan, tanpa tanda-tanda asalnya yang luhur.

Mereka yang berpapasan hanya menangkap siluet seorang wanita cantik yang hampir sempurna, langkahnya tenang, tatapannya jauh menembus samudra. Tak ada yang menyangka bahwa di balik wajah yang sederhana itu berdiam kekuatan purba dan kebijaksanaan yang telah melintasi zaman. Di pantai yang sunyi itu, Dewi Anjani membiarkan dirinya larut dalam kefanaan, menikmati dunia sebagaimana manusia memandangnya, tanpa puja, tanpa takut, hanya angin, ombak, dan rahasia yang setia menemaninya.

Langkahnya melambat. Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani menunduk, memandangi serpihan-serpihan asing yang terseret ombak ke pasir: plastik kusam, potongan jaring yang koyak, sisa-sisa dunia yang kehilangan kepedulian. Dadanya terasa sesak, bukan oleh lelah, melainkan oleh keprihatinan yang mengendap lama.

"Beginikah rupa titipan yang dulu dijaga dengan doa dan rasa hormat?" Suara itu tak terucap, namun bergema jelas di ruang batinnya.

Ia mengangkat wajah, menatap laut yang dulu jernih seperti cermin langit."Wahai manusia’, bisiknya dalam hati, “tanganmu mampu membangun peradaban, tetapi mengapa ia juga begitu ringan melukai ibu yang menghidupimu?"

Angin pantai menyibakkan rambutnya, seolah menjawab dengan keluhan panjang. “Hutan kau tebang tanpa jeda, gunung kau koyak demi keserakahan sesaat. Sungai kau jadikan tempat membuang lupa, lalu kau heran ketika air tak lagi memberi kehidupan.”

Setiap langkah terasa seperti menapaki luka. “Apakah kau tak lagi mendengar napas alam? Ataukah hatimu telah terlampau bising oleh keinginanmu sendiri?”

Namun di balik keprihatinan itu, Shang Dyah masih menyimpan seberkas harap. ”Jika tangan manusia mampu merusak, ia pun mampu menyembuhkan,” gumamnya lirih dalam batin. “Asal mereka mau kembali mengingat: bahwa mereka bukan penguasa, melainkan bagian dari semesta”.

Ombak kembali menyentuh kakinya, dan ia melangkah maju, membawa duka, doa, dan harapan yang tak pernah benar-benar padam.

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani berhenti sejenak. Pandangannya kosong, menembus garis ombak yang pecah lalu hilang, seperti kesadaran manusia yang datang sebentar lalu lenyap tanpa jejak.

“Kasihan… sungguh kasihan kalian,” ucapnya dalam batin, tanpa nada marah, hanya kelelahan yang dalam.

“Kalian menangis pada banjir, mengutuk panas, menyalahkan takdir dan langit, namun tak pernah sungguh berani bercermin.”

Ia menarik napas perlahan. “Betapa mudahnya jari-jari itu menunjuk ke luar, tetapi betapa beratnya mengarah ke dada sendiri.”

Di hadapan matanya terbayang wajah-wajah manusia: cemas, marah, putus asa. “Kalian bertanya mengapa bumi tak lagi ramah, tanpa menyadari bahwa kaki kalianlah yang menginjaknya tanpa rasa. Kalian mengeluh alam tak setia, padahal kalian lebih dahulu mengkhianatinya.”

Ada iba yang menghangatkan sekaligus melukai.“Andai kalian tahu, bisiknya dalam hati, bahwa alam tak pernah berniat menghukum. Ia hanya merespons. Ia hanya memantulkan apa yang kalian lakukan kepadanya.”

Langkahnya kembali bergerak, lebih pelan dari sebelumnya.“Kalian adalah anak-anak semesta yang lupa asal-usulnya, lanjut suara batin itu. Lupa bahwa setiap pohon yang tumbang, setiap laut yang tercemar, sesungguhnya adalah bagian dari diri kalian sendiri yang ikut runtuh.”

Ia menunduk, seolah memberi hormat pada pasir dan ombak. “Namun bagaimana mungkin kesadaran tumbuh, jika kesalahan selalu dilemparkan pada nasib?” Gumamnya dalam hati

Di antara rasa kasihan itu, Shang Dyah menyimpan kesunyian yang pahit; “Manusia bukan tak mampu memahami. Mereka hanya terlalu takut untuk mengakui bahwa kerusakan ini… adalah karya tangan mereka sendiri.”  

Ketika gumam batin itu masih bergetar pelan di dalam dadanya, suara lain menyusup dari kejauhan. Suara manusia, nyata, serak oleh usia dan asin laut. Tak jauh darinya, dua orang nelayan setengah baya duduk di atas perahu kayu yang catnya mulai terkelupas. Tangan mereka cekatan merapikan jaring, meski gerakannya tak lagi sekuat dulu.

“Sedikit sekali hari ini,” ujar yang satu, menghela napas panjang sambil menggulung tali.
“Iya,” sahut temannya lirih, “bahkan tak cukup buat beli solar besok.”

Mereka terdiam sejenak, hanya bunyi jaring yang bergesek dan ombak yang memukul lambung perahu. “Ingat waktu kita masih kecil?” lanjut nelayan pertama. “Bapak kita pulang sebelum matahari tinggi, perahu penuh ikan. Kita sampai kewalahan bantu nurunin.”

Yang lain tersenyum pahit. “Sekarang? Setengah hari di laut, hasilnya segini.” Ia mengangkat jaring yang nyaris kosong. “Lautnya sudah bukan laut yang dulu.”

Percakapan itu membuat langkah Shang Dyah melambat. Ia merapat, berpura-pura hanya seorang pejalan yang menikmati senja, namun telinganya menangkap setiap kata.

“Sejak pantai dipagari tambak udang itu,” gerutu nelayan pertama, suaranya menurun, “air jadi lain. Mangrove habis, ikan entah ke mana.”

“Iya,” jawab temannya, nada suaranya getir. “Katanya demi kemajuan. Tapi kita yang di laut ini malah mundur.”

Ada jeda panjang. Angin membawa bau lumpur tambak yang asing bagi laut. Shang Dyah berdiri tak jauh dari mereka, hatinya bergetar. Gerutu kecil itu, sederhana dan jujur, terdengar lebih tajam daripada ratapan panjang. Ia menyimak dalam diam, menyadari bahwa tanpa mereka sadari, kedua nelayan itu sedang mengucapkan kebenaran yang selama ini dihindari banyak manusia.

Ombak kembali memecah di pasir. Dan Shang Dyah, kian mendekat, mendengarkan namun bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan seluruh keprihatinan yang bersemayam di dalam dirinya. Kedua nelayan itu kembali terdiam, seolah pikiran mereka sama-sama terseret ke arah pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban utuh. Di wajah mereka tergambar kebingungan yang lama dipendam.

“Entah kenapa ya,” gumam salah satu dari mereka sambil menatap laut, “sejak tambak itu jalan beberapa tahun lalu, ikan makin jarang. Padahal lautnya masih di sini, ombaknya masih sama.”

“Iya,” sahut yang lain pelan. “Rasanya ada yang berubah, tapi kita nggak paham betul apa. Kita ini cuma nelayan, taunya melaut, bukan hitung-hitungan tambak.”

Mereka menggeleng, pasrah pada ketidaktahuan yang terasa menyesakkan. Ada jarak antara apa yang mereka alami dan apa yang mereka pahami; jarak yang membuat keluhan hanya berhenti sebagai gerutu.

Shang Dyah Ratna Ayu Dewi Anjani, yang sejak tadi menyimak, melangkah lebih dekat. Ia menyamarkan kegundahan batinnya, membiarkan wajahnya tampil sebagai perempuan biasa yang singgah di pantai menjelang senja. “Permisi,” sapanya lembut, disertai senyum tipis. “Sepertinya laut hari ini kurang ramah, ya?”

Kedua nelayan itu menoleh.“Ah, iya, Naken,” jawab salah satu dari mereka, ramah meski letih. “Akhir-akhir ini memang begitu. Ikan susah dicari.”

Shang Dyah mengangguk pelan, seolah hanya ikut merasakan. “Dari dulu juga begini?” tanyanya basa-basi, nada suaranya ringan, namun matanya menyimpan perhatian yang dalam. “Tidak,” jawab nelayan yang lain. “Dulu laut ini murah hati. Sekarang… entahlah.”

Shang Dyah berdiri di antara mereka dan laut, membiarkan percakapan itu mengalir. Dalam diam, ia tahu, inilah celah kecil tempat kesadaran bisa mulai bersemi; dari obrolan sederhana, dari tanya yang jujur, dari manusia-manusia yang sesungguhnya hanya ingin hidup berdamai dengan alam.

Shang Dyah tersenyum kecil, lalu menatap laut sejenak sebelum kembali memandang kedua nelayan itu. Suaranya tetap lembut, namun kini berisi, seolah setiap kata telah lama disusun dengan pengetahuan yang matang.

“Sebenarnya,” ujarnya perlahan, “tambak udang tidak hanya mengambil ruang di pesisir. Dalam prosesnya, tambak menghasilkan limbah cair yang kembali mengalir ke laut.” Ia berhenti sejenak, memastikan mereka mendengarkan.

“Air buangan itu biasanya mengandung sisa pakan, kotoran udang, serta zat kimia seperti amonia, nitrat, dan fosfat. Jika jumlahnya kecil, laut masih bisa menyesuaikan diri. Tetapi jika dibuang terus-menerus dan tanpa pengolahan, zat-zat itu akan mengubah kualitas air.”

Kedua nelayan itu saling pandang, lalu kembali menatapnya. “Perubahan ini,” lanjut Shang Dyah, “menyebabkan eutrofikasi. Fitoplankton tumbuh berlebihan, oksigen terlarut di air menurun, dan biota laut yang membutuhkan oksigen tinggi, termasuk ikan-ikan tangkapan Bapak, perlahan menjauh atau mati.”

Ia menunjuk ke arah garis pantai yang kini tertutup pagar tambak. “Belum lagi hilangnya mangrove. Padahal mangrove adalah tempat pemijahan dan pembesaran banyak jenis ikan dan udang liar. Ketika mangrove rusak, siklus hidup biota laut ikut terputus.”

Nada suaranya tetap tenang, nyaris seperti dosen yang menjelaskan di ruang kuliah terbuka, dengan laut sebagai papan tulisnya. “Jadi bukan laut yang pelit,” simpulnya pelan. “Lingkungannya saja yang berubah, sehingga tidak lagi mampu mendukung kehidupan seperti dulu.”

Kedua nelayan itu terdiam lama. Di wajah mereka tampak keterkejutan yang bercampur pemahaman baru. Shang Dyah menunduk ringan, seolah tak ingin terlihat menggurui. “Ini bukan kesalahan satu dua orang,” tambahnya lembut. “Ini soal bagaimana manusia sering lupa bahwa laut adalah sistem hidup yang saling terhubung. Jika satu bagian dilukai, bagian lain akan ikut merasakan.”

Ombak kembali datang dan surut, seakan mengamini penjelasan itu. Dan di senja yang semakin meredup, benih kesadaran mulai tumbuh, pelan namun nyata, di antara kata-kata yang akhirnya menemukan maknanya.

Senja perlahan menanggalkan warna keemasannya. Langit yang tadi berpendar hangat kini berangsur gelap, memasuki gerbang petang yang pekat dan sunyi. Garis laut dan langit menyatu dalam bayang kebiruan, sementara lampu-lampu kecil di perahu mulai dinyalakan satu per satu, berkelip seperti kunang-kunang yang kelelahan.

Shang Dyah menatap perubahan itu dengan diam. Di balik wajah tenangnya, pikirannya bergerak lebih jauh. Bagaimana kehidupan mereka di darat? batinnya bertanya. Bagaimana keluarga yang menunggu di rumah, menggantungkan harap pada laut yang kian menua?

Ia memandang kembali dua nelayan itu. Kerut di wajah mereka bukan hanya milik angin dan matahari, melainkan juga beban yang dipikul bertahun-tahun. Ada dorongan halus dalam dirinya untuk melihat lebih dekat, bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai saksi kehidupan.

Shang Dyah pun sedikit memajukan langkah, berusaha menarik perhatian mereka tanpa kesan memaksa. “Petangnya cepat sekali gelap,” ujarnya sambil menatap langit. “Biasanya kalau sudah begini, rumah pasti sudah menunggu.”

Salah satu nelayan tersenyum tipis. “Iya, Naken. Istri sudah pasti resah kalau kami pulang kemalaman.” “Apa rumahnya jauh dari sini?” tanya Shang Dyah, nada suaranya ringan, seperti obrolan biasa yang lahir dari keakraban mendadak.

“Tidak terlalu,” jawab yang lain. “Masih di kampung pesisir, tak jauh dari tambak itu.
Shang Dyah mengangguk pelan, lalu tersenyum hangat.

“Kebetulan saya belum tahu jalan di sekitar sini,” katanya, sedikit merendahkan suara. “Kalau tidak keberatan, boleh saya ikut sampai ke kampung? Sekalian ingin mengenal kehidupan nelayan lebih dekat.”

Kedua nelayan itu saling berpandangan, lalu mengangguk. “Boleh saja,” kata salah satu dari mereka. “Anggap saja jalan pulang bertiga.”

Di bawah langit yang kian gelap, Shang Dyah melangkah bersama mereka. Dalam hati, ia tahu, perjalanan ini bukan sekadar menuju sebuah rumah sederhana, melainkan menuju kisah manusia yang ingin ia pahami sepenuhnya; dari laut hingga ke ruang paling sunyi dalam kehidupan mereka.

Langkah mereka terhenti di depan sebuah rumah panggung kecil yang berdiri rapuh di tepi kampung pesisir. Kayunya kusam, beberapa bagian tampak lapuk dimakan usia dan udara asin. Begitu kedua nelayan itu mendekat, pintu rumah terbuka. Tiga orang anak berlarian keluar, wajah mereka cerah meski pakaian sederhana melekat di tubuh mungil itu. Di belakang mereka, seorang wanita menyusul, menyeka tangan di kain sarung, matanya memancarkan lega.

“Bapak pulang,” ujar wanita itu lirih namun hangat.

Shang Dyah berhenti sejenak, menyaksikan pemandangan itu dengan dada yang terasa menghangat sekaligus perih. Anak-anak itu menatapnya penuh rasa ingin tahu, sementara sang ibu tersenyum sopan. 

“Maaf, Bu,” kata Shang Dyah dengan suara halus, sedikit menundukkan kepala. “Bolehkah saya menumpang sholat Magrib?”

Wanita itu tampak terkejut sejenak, lalu mengangguk cepat. “Tentu, silakan. Rumah kami sederhana, tapi semoga cukup.”

Shang Dyah mengucapkan terima kasih. Saat diarahkan ke bagian belakang rumah untuk mengambil air wudhu, langkahnya melambat. Ia menyusuri lantai kayu yang berderit pelan, melewati dinding-dinding tipis yang tak sepenuhnya menahan angin malam. Di halaman belakang, sebuah sumur tua berdiri miring, dikelilingi ember plastik yang retak dan tanah becek bercampur pasir.

Pandangan Shang Dyah menyapu sekitar. Rumah itu jauh dari kata layak huni. Atapnya rendah, beberapa genting tampak bergeser. Tak ada sekat yang jelas antara ruang tidur dan dapur. Namun di tengah keterbatasan itu, terasa ketekunan dan ketabahan yang diam-diam tumbuh.

Sambil membasuh wajah dan tangannya dengan air dingin, Shang Dyah menunduk. Bukan karena air, melainkan karena rasa yang menekan di dalam dadanya. Beginikah harga dari laut yang terluka? batinnya bergumam. Manusia-manusia yang setia menjaganya justru hidup dalam kekurangan.

Air wudhu menetes dari jemarinya ke tanah. Dan di balik tubuh manusianya yang sederhana, Shang Dyah menyimpan tekad yang kian menguat, lahir dari apa yang baru saja ia saksikan di rumah kecil itu.

Usai sholat Magrib, rumah kecil itu dipenuhi suasana yang hangat dan sederhana. Lampu minyak menyala temaram, memantulkan cahaya kekuningan pada dinding kayu yang kusam. Shang Dyah duduk bersila bersama keluarga nelayan itu. Anak-anak berkumpul di dekat ibunya, saling berdesakan, sesekali mencuri pandang ke arah tamu yang mereka anggap istimewa meski tak tahu alasannya.

Sang istri menyuguhkan teh hangat dan singkong rebus di atas piring enamel yang pinggirnya terkelupas. “Maaf seadanya,” ucapnya lirih.

“Terima kasih,” jawab Shang Dyah tulus, senyumnya hangat, tangannya menerima suguhan itu dengan penuh hormat.

Percakapan mengalir perlahan. Tentang laut, tentang cuaca, tentang hari-hari yang kian berat. Salah satu nelayan mulai bercerita, suaranya datar namun sarat kelelahan.

“Sekarang melaut bukan soal berani lagi,” katanya. “Kadang kami sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tetap tak cukup.”

Istrinya menunduk, jemarinya meremas ujung kain. “Anak-anak tetap harus sekolah,” katanya pelan. “Kadang kami harus memilih, beli beras atau bayar buku.”

Anak-anak itu terdiam, seolah sudah terlalu akrab dengan kata-kata semacam itu. Salah satu dari mereka mendekat ke ayahnya, bersandar tanpa suara.

Shang Dyah mendengarkan dengan saksama. Wajahnya tetap tenang, matanya lembut, namun di dalam batinnya sesuatu runtuh perlahan. Inilah akibat dari kerusakan yang tak pernah mereka lakukan, jerit hatinya lirih. Mereka membayar harga dari keserakahan yang bukan milik mereka.

Ia menahan napas, menelan getir yang naik ke dadanya. Betapa kejam dunia ketika yang paling setia justru yang paling menderita. Tangis itu tak pernah sampai ke wajahnya, namun di dalam, batinnya menangis pedih, tersedu tanpa suara.

Di tengah kisah-kisah sederhana itu, tawa kecil anak-anak sesekali pecah, menyingkap keteguhan yang tak tergoyahkan oleh kemiskinan. Dan di sanalah Shang Dyah duduk, menyaksikan cinta, ketabahan, dan luka yang hidup berdampingan dalam satu ruang sempit.

Malam kian pekat di luar, namun di dalam rumah kecil itu, api kehidupan tetap menyala. Shang Dyah menunduk pelan, menyimpan semua kisah itu dalam hatinya, bersumpah dalam diam bahwa penderitaan ini tak akan dibiarkan berlalu tanpa makna.

Malam semakin larut ketika Shang Dyah perlahan berdiri. Ia merogoh saku, menatap layar ponselnya, lalu berpura-pura menekan beberapa angka. Suaranya dibuat pelan namun cukup terdengar.

“Iya… aku sudah selesai,” katanya seolah berbicara dengan seseorang di seberang sana. “Tolong jemput aku di pantai tempat tadi kamu menurunkanku.”

Ia menutup panggilan itu dengan senyum kecil, lalu menoleh kepada keluarga nelayan tersebut. “Sepertinya saya harus pamit,” ucapnya lembut. “Teman saya akan menjemput di pantai.”

Sang istri bangkit tergesa. “Sudah malam, Naken. Terima kasih sudah singgah.”

Shang Dyah mengangguk hormat. Namun sebelum melangkah pergi, ia membuka ransel hitam pekat yang sejak tadi setia di punggungnya. Dari dalamnya, ia mengeluarkan dua helai kaos berwarna merah menyala, masih terlipat rapi. Warna itu tampak kontras di bawah cahaya lampu minyak yang redup.

“Ini… sedikit oleh-oleh,” katanya sambil menyerahkan kaos itu kepada sang nelayan. “Semoga bisa dipakai.”

Nelayan itu tampak kikuk, tangannya ragu menerima. “Wah, ini terlalu—”

“Tidak apa-apa,” potong Shang Dyah lembut, senyumnya menenangkan. Lalu ia mendekat kepada sang istri, menyelipkan sejumlah uang ke dalam genggaman tangannya. Gerakannya cepat, nyaris tanpa suara. “Untuk keperluan anak-anak,” bisiknya pelan.

Mata wanita itu berkaca-kaca. Ia hendak berkata sesuatu, namun Shang Dyah hanya menggeleng perlahan, memohon agar tak ada penolakan.

Anak-anak memandang dengan mata bulat, tak sepenuhnya mengerti, namun merasakan hangatnya perpisahan itu.

Mereka mengantar Shang Dyah hingga ke gerbang kecil dari bambu yang berdiri miring di depan rumah. Angin malam menyapa lembut, membawa aroma laut yang pekat.

“Hati-hati di jalan, Naken,” ujar sang nelayan.

Shang Dyah menunduk hormat, lalu melangkah pergi. Dari balik bayang malam, ia sempat menoleh sekali lagi. Rumah kecil itu berdiri sunyi, namun di dalamnya tersimpan harapan yang rapuh dan doa-doa yang tak pernah berhenti.

Ia melanjutkan langkah menuju pantai stelah menorehkan ujung pemajanya pada lambung sampan sang nelayan;  tubuhnya menjauh, namun hatinya tertinggal; bersama keluarga nelayan yang baru saja ia temui, dan janji sunyi yang kini kian menguat di dalam dirinya. Berambung pekan depan

Jumat, 23 Januari 2026

DPC PDI Perjuangan Lombok Timur Rayakat HUT Megawati ke-79, Potong Tumpeng hingga Resmikan Musholla

Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan

Okenews.net- Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Lombok Timur menggelar perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang berlangsung khidmat dan penuh kebersamaan bersama rakyat.

Perayaan tersebut dipimpin langsung oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Lombok Timur, Ahmad Sukro, didampingi Sekretaris DPC PDI Perjuangan Lombok Timur yang juga Anggota DPRD Lombok Timur, Ahmad Amrullah. Acara turut dihadiri para pengurus, kader dan simpatisan PDI Perjuangan se-Kabupaten Lombok Timur.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemotongan tumpeng bersama rakyat, di antaranya tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat dan pemuda. Bertempat di Musholla Al-Kautsar, Desa Rumbuk, Kecamatan Sakra, Lombok Timur pada Jumat (23/01/2026).

Kegiatan itu sebagai simbol rasa syukur atas usia dan perjuangan panjang Megawati Soekarnoputri dalam membesarkan PDI Perjuangan sekaligus mengabdikan diri bagi bangsa dan negara. 

Ketua DPC PDI Perjuangan Lombok Timur, Ahmad Sukro, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur mendalam atas peringatan HUT ke-79 Megawati Soekarnoputri. Ia menegaskan bahwa perayaan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali jati diri kader PDI Perjuangan sebagai pembela kepentingan rakyat.

“Kita bersyukur kepada Allah SWT atas kesehatan dan umur panjang Ibu Megawati Soekarnoputri. Di usia ke-79 ini, beliau tetap menjadi simbol keteguhan ideologi dan keberpihakan pada wong cilik. Ibu Megawati selalu mengingatkan kita, seluruh kader PDI Perjuangan, untuk tidak pernah menjauh dari rakyat, membela kepentingan rakyat, dan selalu berada di tengah-tengah rakyat,” tegas Ahmad Sukro.

Usai pemotongan tumpeng, kegiatan dilanjutkan dengan peresmian Musholla Al-Kautsar yang berlokasi di Desa Rumbuk, Kecamatan Sakra, Kabupaten Lombok Timur. Musholla tersebut dipersembahkan untuk masyarakat setempat dan bersumber dari program aspirasi Ahmad Amrullah selaku Anggota DPRD dapil II Lombok Timur.

Peresmian Musholla Al-Kautsar menjadi wujud nyata komitmen PDI Perjuangan Lombok Timur dalam menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung sarana ibadah dan penguatan nilai-nilai sosial keagamaan.

Melalui perayaan HUT ke-79 Megawati Soekarnoputri ini, DPC PDI Perjuangan Lombok Timur menegaskan kembali semangat gotong royong, keberpihakan pada rakyat kecil, serta konsistensi menjalankan politik yang membumi dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

“Perayaan ini adalah pengingat bagi kami semua bahwa PDI Perjuangan tidak boleh lelah melayani rakyat. Politik harus punya wajah kemanusiaan. Apa yang kami lakukan hari ini bersama rakyat, untuk rakyat adalah perintah ideologis partai yang selalu ditekankan oleh Ibu Megawati,” ujar Ahmad Sukro.

Sementara itu, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Lombok Timur sekaligus Anggota DPRD Lombok Timur, Ahmad Amrullah, menyampaikan bahwa Musholla Al-Kautsar tersebut merupakan bentuk penyaluran aspirasi yang dipersembahkan sepenuhnya untuk masyarakat. 

Ia berharap keberadaan musholla itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh warga sekitar sebagai sarana ibadah dan penguatan kebersamaan sosial.

“Musholla Al-Kautsar ini kami serahkan kepada masyarakat agar benar-benar bermanfaat dan menjadi tempat ibadah yang menumbuhkan kebersamaan serta nilai-nilai kebaikan. Peresmian musholla ini juga menjadi tanda bahwa PDI Perjuangan hadir, peduli, dan akan senantiasa berada di tengah-tengah rakyat,” ujar Ahmad Amrullah.

Menurut Ahmad Amrullah, perayaan HUT ke-79 Megawati Soekarnoputri dan peresmian Musholla Al-Kautsar tidak dapat dipisahkan dari nilai perjuangan PDI Perjuangan yang berpihak kepada rakyat. Ia menegaskan bahwa seluruh kerja politik dan pengabdian kader partai harus berangkat dari kebutuhan riil masyarakat.

“PDI Perjuangan tidak boleh berjarak dengan rakyat. Kami harus selalu hadir, membela kepentingan rakyat, dan memastikan setiap program yang kami perjuangkan benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat. Itulah garis perjuangan yang diajarkan oleh Ibu Megawati dan terus kami pegang,” tegas Ahmad Amrullah.

Institut Elkatarie Perkuat Jejaring Akademik, Resmi Jalin Kerja Sama dengan UNISDA Lamongan

Institut Elkatarie
Okenews.net- Institut Elkatarie resmi menjalin kerja sama dengan Universitas Islam Darul Ulum (UNISDA) Lamongan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU). Kerja sama ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kolaborasi antarperguruan tinggi Islam, khususnya dalam peningkatan mutu akademik dan kelembagaan.

Penandatanganan MoU dilakukan langsung oleh Rektor Institut Elkatarie, Dr. Hasbulloh Muslim, bersama Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Institut Elkatarie, Dr. Irfan Azim. Kesepakatan tersebut menegaskan komitmen kedua institusi untuk bersinergi dalam pengembangan pendidikan tinggi yang berkualitas dan berdaya saing.

Melalui kerja sama ini, Institut Elkatarie dan UNISDA Lamongan sepakat mengembangkan berbagai program, mulai dari peningkatan kualitas sumber daya manusia, kolaborasi riset dan publikasi ilmiah, pendampingan peningkatan mutu akademik, hingga penguatan tata kelola perguruan tinggi.

Rektor Institut Elkatarie, Dr. Hasbulloh Muslim, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan UNISDA Lamongan merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring akademik sekaligus mendorong peningkatan kualitas penyelenggaraan pendidikan tinggi di lingkungan Institut Elkatarie.

“Kerja sama ini diharapkan tidak hanya bersifat administratif, tetapi dapat diwujudkan dalam program-program nyata yang memberi manfaat bagi dosen, mahasiswa, dan institusi,” ujarnya.

Sementara itu, pihak UNISDA Lamongan menyambut baik penandatanganan MoU tersebut sebagai langkah bersama dalam membangun perguruan tinggi Islam yang unggul, adaptif, dan responsif terhadap tantangan zaman.

Dengan terjalinnya kerja sama ini, Institut Elkatarie dan UNISDA Lamongan optimistis dapat menghadirkan inovasi akademik serta memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan pendidikan tinggi dan pemberdayaan masyarakat luas.

BPN Ingatkan Warga Lotim Segera Sertifikatkan Tanah

ATR/BPN Lombok Timur
Okenews.net-Masyarakat Kabupaten Lombok Timur diimbau untuk segera mengurus sertifikat tanah. Pasalnya, enam jenis surat tanah lama yakni girik, petuk landrente, letter C, kekitir, pipil, dan verponding tidak lagi diakui sebagai bukti penguasaan atau kepemilikan tanah mulai Februari 2026.

Kepala Seksi Penetapan Hak dan Pendaftaran Badan Pertanahan Nasional (BPN) Lombok Timur, Darmawan Wibowo, menjelaskan kebijakan tersebut mengacu pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2021 yang memberikan masa transisi selama lima tahun sejak diterbitkan.

“Mulai Februari 2026, dokumen-dokumen lama itu tidak lagi berlaku sebagai bukti kepemilikan. Negara hanya mengakui sertifikat hak atas tanah, baik fisik maupun elektronik,” ujar Wibowo yang akrab disapa Wawan saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (23/01/2026).

Ia menjelaskan, surat-surat tanah tersebut sebelumnya diakui sebagai bukti penguasaan tanah dan pembayaran pajak sejak era kolonial hingga diberlakukannya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Namun saat ini, dokumen tersebut hanya berfungsi sebagai petunjuk atau dasar untuk penerbitan sertifikat baru.

Meski demikian, Wawan menegaskan keenam surat tanah lama itu masih dapat digunakan sebagai persyaratan dalam proses sertifikasi, termasuk untuk keperluan jual beli atau penyelesaian sengketa, selama tidak bertentangan dengan putusan pengadilan.

“Di Lombok Timur dan NTB, pipil masih paling banyak ditemui. Sementara letter C atau kekitir relatif jarang karena berasal dari tradisi administrasi di Jawa,” jelasnya.

Wawan juga mengimbau masyarakat agar tidak menunda proses konversi ke sertifikat guna menghindari potensi masalah hukum di kemudian hari. Ia sekaligus menepis isu yang menyebutkan tanah tanpa sertifikat akan diambil alih negara.

“Itu tidak benar. Negara tidak serta-merta mengambil tanah warga. Justru sertifikasi ini untuk melindungi hak masyarakat,” tegasnya.

Program sertifikasi tanah secara masif, lanjut Wawan, telah berjalan hampir di seluruh wilayah Indonesia seiring semakin lengkapnya pemetaan bidang tanah.

“Kami siap membantu masyarakat Lombok Timur yang masih memiliki girik atau pipil untuk segera disertifikatkan. Jangan menunggu sampai Februari 2026,” pungkas Wawan.

Mahasiswa Unram Dorong Olahan Kelapa Jadi VCO di Desa Korleko

KKN PMD Universitas Mataram

Okenews.net- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pemberdayaan Masyarakat Desa (KKN PMD) Universitas Mataram menggelar sosialisasi bertema optimalisasi potensi kelapa melalui produksi Virgin Coconut Oil (VCO) di Desa Korleko, Kecamatan Labuhan Haji. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis, (22/01/2026), bertempat di Aula Kantor Desa Korleko, dan diikuti oleh pemuda serta masyarakat setempat.


Sosialisasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang besarnya potensi kelapa sebagai komoditas unggulan desa yang dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN PMD mendorong terbentuknya kelompok UMKM baru yang mandiri, peningkatan keterampilan teknis produksi, diversifikasi usaha berbasis kelapa, serta peningkatan pendapatan ekonomi masyarakat desa.


Selama ini, mayoritas petani di Desa Korleko menjual kelapa secara borongan kepada tengkulak dengan harga relatif murah. Kelapa tersebut kemudian dipasarkan keluar daerah setelah dipisahkan dari serabutnya dengan harga yang jauh lebih tinggi. Rendahnya nilai jual di tingkat petani disebabkan oleh minimnya pengolahan dan lemahnya sistem niaga. Padahal, di berbagai daerah lain, kelapa telah diolah menjadi beragam produk bernilai tambah dengan teknologi sederhana yang dapat diterapkan oleh industri kecil dan menengah.


Sebelum sosialisasi digelar, Tim KKN PMD Universitas Mataram Desa Korleko telah melaksanakan pelatihan pembuatan VCO bersama perwakilan pemuda dari setiap dusun. Pelatihan ini merupakan tindak lanjut dari pemaparan program kerja yang disampaikan kepada pemerintah desa pada 29 Desember 2025.


Sekretaris Desa Korleko, Mawardi, S.Pd., menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. Ia berharap kegiatan yang dijalankan mahasiswa KKN PMD dapat berkelanjutan.


“Jika adik-adik mahasiswa KKN PMD Universitas Mataram mampu merancang program yang berkelanjutan, kami dari pihak desa siap mendukung pendanaannya. Kami juga meminta setiap dusun mengirimkan perwakilan pemuda untuk mengikuti pelatihan pembuatan VCO,” ujarnya.


Sebagai langkah keberlanjutan, Tim KKN PMD Universitas Mataram Desa Korleko membentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang melibatkan pemuda desa. Pelatihan produksi Virgin Coconut Oil (VCO) dilaksanakan secara intensif mulai 5 hingga 17 Januari 2026.


Anggota Tim KKN PMD Universitas Mataram Desa Korleko 2025, Salju Anorawi, menyebutkan bahwa program ini memberikan dampak positif bagi masyarakat.


“Program ini tidak hanya menambah pendapatan, tetapi juga menumbuhkan semangat wirausaha dan kesadaran akan pentingnya pemanfaatan sumber daya lokal. Masyarakat Korleko kini mulai antusias memasarkan produk VCO di wilayah Labuhan Haji,” ungkapnya.


Melalui pengolahan kelapa menjadi VCO, masyarakat Desa Korleko diharapkan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari peningkatan nilai tambah produk. Selain mendongkrak pendapatan rumah tangga, program ini juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap fluktuasi harga kelapa mentah.


Kantor Pertanahan KLU Perkuat Layanan Digital Lewat ID Card dan E-Money Bank Mandiri

Kantor Pertanahan Lombok Utara

Okenews.net- Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara (KLU) terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong modernisasi tata kelola perkantoran. Salah satunya melalui kegiatan penyerahan ID Card dan E-Money Bank Mandiri kepada seluruh pegawai yang digelar pada Rabu, (02/012026), bertempat di Kantor Pertanahan KLU.


Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama strategis antara Bank Mandiri dengan Kantor Pertanahan KLU dalam mendukung penerapan sistem identitas pegawai terpadu sekaligus mendorong penggunaan transaksi non-tunai di lingkungan kerja.


Melalui penggunaan ID Card terintegrasi dengan E-Money, diharapkan proses administrasi internal menjadi lebih tertib, akses layanan semakin mudah, serta transaksi keuangan berlangsung lebih efisien, aman, dan transparan. Inisiatif ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam percepatan digitalisasi layanan publik.


Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara Muhammad Shaleh Basyarah menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi yang terjalin dengan Bank Mandiri. Menurutnya, langkah ini menjadi bagian penting dalam membangun budaya kerja yang profesional dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.


“Penerapan ID Card dan E-Money ini tidak hanya mendukung ketertiban administrasi, tetapi juga menjadi upaya nyata kami dalam menciptakan sistem kerja yang lebih modern, efisien, dan akuntabel. Kami berharap inovasi ini dapat meningkatkan kenyamanan pegawai sekaligus berdampak positif pada kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.


Kegiatan penyerahan berlangsung tertib dan lancar, serta mendapat respon positif dari seluruh pegawai. Para pegawai menyambut baik inovasi tersebut karena dinilai memudahkan aktivitas kerja sehari-hari sekaligus mendukung ekosistem transaksi non-tunai di lingkungan perkantoran.


Dengan langkah ini, Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara menegaskan komitmennya untuk terus berinovasi dan beradaptasi dalam rangka memberikan pelayanan pertanahan yang semakin prima dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Kamis, 22 Januari 2026

Silaturahmi Ulama Nusantara–Thailand: Rektor IAIH Pancor Kunjungi Saiburi Islam Wittaya School

Silaturrahmi Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor

Okenews.net- Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi (IAIH) Pancor, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA., melakukan kunjungan silaturahmi ke Saiburi Islam Wittaya School yang berada di Saiburi, Pattani, Thailand. Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam mempererat jejaring keilmuan sekaligus memperkokoh persaudaraan antarlembaga pendidikan Islam di kawasan Asia Tenggara.

Kehadiran TGB beserta rombongan disambut hangat oleh pimpinan Saiburi Islam Wittaya School, Ustadz Abdulloh. Ia menyampaikan rasa hormat dan kebanggaan atas kunjungan tokoh ulama dari Indonesia tersebut, yang dinilai membawa semangat persatuan dan kolaborasi pendidikan lintas negara.

“Kami merasa terhormat menerima kunjungan ulama dan tokoh besar dari Indonesia. Semoga pertemuan ini menjadi awal terjalinnya persahabatan dan kerja sama yang kuat antara Saiburi Islam Wittaya School dan sivitas akademika IAIH Pancor,” ujar Ustadz Abdulloh, Selasa (21/1/2026).

Selain itu, TGB juga disambut langsung oleh pendiri Saiburi Islam Wittaya School, Dato’ Abdul Kadir, tokoh Islam berpengaruh di Thailand Selatan. Dato’ Kadir menyampaikan apresiasi mendalam atas kunjungan tersebut yang dinilainya sebagai kehormatan besar bagi lembaga dan masyarakat sekitar.

“Kami sangat berbahagia atas kehadiran TGB di Saiburi. Ini adalah bentuk silaturahmi yang sangat kami hargai dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” ungkapnya.

Pertemuan dua tokoh ini memiliki makna khusus mengingat TGB dan Dato’ Abdul Kadir sama-sama merupakan alumni Universitas Al-Azhar, Mesir. Kesamaan latar belakang keilmuan tersebut semakin menguatkan ikatan intelektual dan ukhuwah Islamiyah di antara keduanya.

Dalam sambutannya, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi menyampaikan penghargaan dan rasa hormat yang tinggi kepada keluarga besar Saiburi Islam Wittaya School atas dedikasi mereka dalam mengembangkan pendidikan Islam di Thailand Selatan.

“Atas nama pribadi dan keluarga besar YPH PPD NWDI Pancor, saya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas perjuangan dan jihad ta’lim yang dilakukan Saiburi Islam Wittaya School. Para pejuang pendidikan di wilayah ini adalah garda terdepan umat,” tutur TGB yang juga menjabat Ketua Umum PB NWDI dan Ketua OIA Al-Azhar Indonesia.

Ia menegaskan bahwa kemajuan umat tidak dapat dipisahkan dari penguasaan ilmu pengetahuan. Menurutnya, ilmu dan hikmah merupakan fondasi utama dalam membangun umat yang kuat dan bermartabat.

“Pintu kemajuan umat adalah ilmu. Dengan ilmu dan hikmah, umat akan menjadi baik dan berdaya. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk belajar kepada ahlinya,” tegasnya.

Kunjungan ini diharapkan menjadi tonggak penguatan kerja sama dan persaudaraan antara lembaga pendidikan Islam Indonesia dan Thailand, sekaligus menginspirasi pengembangan pendidikan Islam yang berorientasi pada ilmu, akhlak, dan kemajuan peradaban umat.

Silaturahmi ke Thailand, TGB Apresiasi Festival Akademik dan Dorong Pendidikan Islam Holistik

Kunjungan TGB ke Thailand Selatan
Okenews.net-Rektor Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor (IAIH) Lombok Timur, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi, MA., melakukan kunjungan silaturahmi ke Sekolah Markas Asshaqofah al-Ammah, Thailand Selatan, Selasa (21/01/2026). Kunjungan tersebut dirangkaikan dengan tausiah serta peninjauan langsung festival akademik yang digelar oleh santri dan santriwati.

Didampingi Wakil Rektor I IAIH Pancor Dr. Abdul Hayyi Akrom, M.Pd., TGB beserta rombongan terlebih dahulu menyaksikan berbagai penampilan dalam festival akademik. Kegiatan tersebut menampilkan ragam kreativitas, bakat, dan kemampuan intelektual santri dan santriwati, mulai dari bidang akademik hingga seni dan keterampilan.

Festival akademik ini menjadi ruang ekspresi sekaligus sarana pengembangan potensi peserta didik dalam suasana yang edukatif, inspiratif, dan penuh semangat keilmuan.

Pimpinan Sekolah Markas Asshaqofah al-Ammah, Ustadz Abdul Hakim, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya atas kehadiran Rektor IAIH Pancor di lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Ia menilai kunjungan tersebut sebagai sebuah kehormatan sekaligus motivasi besar bagi seluruh civitas sekolah.

“Kami sangat bersyukur dan berbahagia atas kehadiran Bapak TGB di Sekolah Markas Asshaqofah al-Ammah. Semoga silaturahmi ini membawa kebaikan dan keberkahan bagi lembaga kami serta seluruh santri dan santriwati,” ujarnya.

Dalam tausiahnya, Dr. TGB. Muhammad Zainul Majdi mengaku terkesan dengan semangat belajar dan kreativitas para santri dan santriwati yang ditampilkan dalam festival akademik tersebut. Ia menilai kegiatan semacam ini sangat penting untuk membentuk generasi yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan masa depan.

“Saya merasa sangat bahagia bisa bersilaturahmi sekaligus menyaksikan langsung aktivitas santri dan santriwati dalam festival akademik ini. Semangat belajar dan kreativitas yang ditunjukkan patut diapresiasi dan terus dikembangkan,” ungkap TGB yang juga menjabat Ketua Umum PB NWDI.

Ia mendorong pihak sekolah agar terus menghadirkan berbagai program pendidikan yang mampu menggali, menumbuhkan, dan mengangkat potensi santri dalam beragam disiplin ilmu.

“Sekolah perlu terus mengembangkan kegiatan yang dapat menumbuhkan bakat dan potensi santri dan santriwati di berbagai bidang keilmuan agar mereka siap menghadapi tantangan zaman,” tegasnya.

Lebih lanjut, TGB menyinggung sejarah Islam pada masa Nabi Muhammad SAW., di mana para sahabat Nabi berasal dari beragam latar belakang profesi. Menurutnya, sejak awal Islam telah menempatkan seluruh bidang kehidupan sebagai ruang pengabdian umat.

“Sejak masa Nabi, para sahabat tidak hanya ulama, tetapi juga pedagang, penyair, petani, dan pengrajin. Semua ranah ilmu dan profesi harus diisi oleh umat Islam. Karena itu, generasi Islam, termasuk di Thailand Selatan, perlu dibekali dengan berbagai disiplin ilmu,” jelasnya.

Ia menutup tausiahnya dengan menekankan pentingnya keseimbangan antara penguasaan ilmu dan pembentukan akhlak. Menurutnya, Sekolah Markas Asshaqofah al-Ammah mencerminkan model pendidikan Islam yang ideal.

“Pendidikan Islam harus dibangun di atas keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter. Sekolah ini menjadi contoh lembaga pendidikan Islam dengan keilmuan yang kuat dan akhlak yang nyata,” pungkasnya.

Kunjungan tersebut diharapkan dapat semakin mempererat silaturahmi antar-lembaga pendidikan Islam lintas negara, sekaligus menguatkan semangat pendidikan holistik dalam mencetak generasi santri yang berilmu, berakhlak mulia, dan siap berkontribusi bagi umat serta bangsa.

Puluhan Desa Terkendala Lahan, Pemda Lotim Bentuk Tiga Desk Percepat Koperasi Merah Putih

 

Rapat Koordinasi Pembangunan KDKMP

Okenews.net – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mulai tancap gas mempercepat pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Salah satu langkah konkret yang diambil adalah pembentukan tiga desk khusus untuk mengurai persoalan lahan yang hingga kini masih menjadi hambatan utama di puluhan desa.

Langkah tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Pembangunan KDKMP yang digelar di Ballroom Kantor Bupati Lombok Timur, Kamis (22/01/2026).

Sekretaris Daerah Lombok Timur, H. Muhammad Juaini Taofik, mengapresiasi tingginya kehadiran kepala desa dan lurah. Menurutnya, partisipasi tersebut mencerminkan kepatuhan aparatur desa terhadap kebijakan pemerintah, yang menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 17 Tahun 2025.

“Kepatuhan terhadap regulasi adalah pilar utama kebijakan, selain sumber daya, komunikasi, dan struktur birokrasi,” tegas Sekda.

Ia menjelaskan, rakor ini menjadi bagian dari upaya percepatan pembangunan fisik gerai pergudangan beserta kelengkapan KDKMP. Namun di lapangan, pemerintah masih dihadapkan pada persoalan klasik, yakni keterbatasan dan ketidaksiapan lahan.

Bahkan, berdasarkan pemetaan awal, terdapat 14 desa yang sama sekali tidak memiliki potensi lahan untuk pembangunan gerai KDKMP. Selain itu, banyak desa menghadapi kendala teknis lain yang membutuhkan penanganan lintas sektor.

“Prinsipnya, optimalkan dulu potensi lahan desa. Jangan langsung bergantung pada lahan milik kabupaten atau provinsi,” ujar Juaini.

Untuk itu, Pemkab Lombok Timur membentuk tiga desk khusus yang akan fokus menangani persoalan lahan. Desk tersebut masing-masing dipimpin oleh Kepala Dinas Koperasi dan UKM, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD), serta Kepala Bidang Aset BPKAD Lombok Timur.

Data Kodim 1615 Lombok Timur mencatat, kendala pembangunan KDKMP meliputi luas lahan tidak sesuai ketentuan di 36 desa, lokasi tidak strategis (24 desa), lahan berada di wilayah desa lain (14 desa), persoalan perizinan (8 desa), tukar guling (15 desa), penimbunan (11 desa), hingga keberadaan bangunan di atas lahan (22 desa).

Komandan Kodim 1615 Lombok Timur, Letkol Inf. Eky Anderson, menekankan pentingnya verifikasi awal oleh kepala desa sebelum persoalan dibahas lebih lanjut di masing-masing desk.

“Pastikan dulu kondisi lahan di desa masing-masing. Setelah itu baru kita lanjutkan ke pembahasan teknis dan peninjauan lapangan,” ujarnya.

Dengan pembentukan desk ini, Pemkab Lombok Timur berharap seluruh hambatan dapat diurai secara sistematis, sehingga pembangunan Koperasi Merah Putih benar-benar berjalan sesuai target dan memberi dampak nyata bagi penguatan ekonomi desa.


Benahi Layanan Pertanahan, Kepala Kantor BPN Lombok Utara Tekankan Sinergi dan Profesionalisme

Atr/BPN, Lombok Utara

Okenews.net – Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara, Muhammad Shaleh Basyarah, menggelar rapat koordinasi internal guna mengevaluasi kinerja dan meningkatkan kualitas layanan pertanahan, Selasa (20/01/2026). Rapat berlangsung di Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara dan diikuti seluruh unsur pelayanan serta tim teknis.

Rapat koordinasi tersebut melibatkan Tim Loket Pelayanan bersama jajaran teknis dari Seksi Survei dan Pemetaan, Seksi Penetapan Hak dan Pendaftaran, serta Seksi Penataan dan Pemberdayaan. Fokus utama pembahasan diarahkan pada evaluasi menyeluruh terhadap pelayanan pertanahan, sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang masih kerap ditemui masyarakat di lapangan.

Dalam arahannya, Muhammad Shaleh Basyarah menegaskan pentingnya sinergi lintas seksi, komunikasi yang terbuka, serta peningkatan kompetensi aparatur. Ia menekankan bahwa pelayanan pertanahan harus dijalankan secara profesional, transparan, dan akuntabel, sejalan dengan tuntutan publik akan layanan yang cepat dan berkepastian hukum.

“Evaluasi ini menjadi momentum untuk memperbaiki kekurangan dan memperkuat kerja sama internal agar pelayanan kepada masyarakat semakin optimal,” tegasnya.

Melalui rapat koordinasi tersebut, diharapkan seluruh jajaran Kantor Pertanahan Kabupaten Lombok Utara dapat menyamakan persepsi, memperkuat koordinasi teknis, serta merumuskan langkah-langkah perbaikan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan bermuara pada meningkatnya kepuasan dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan pertanahan di Kabupaten Lombok Utara.

Satgas PKH Selamatkan 4,09 Juta Hektare Hutan dan Aset Negara Rp6,62 Triliun, Nusron Wahid: Negara Hadir Lawan Perusakan

Menteri ATR/BPN

Okenews.net-Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menegaskan komitmen pemerintah dalam menertibkan pemanfaatan kawasan hutan dan menyelamatkan aset negara dari praktik penyalahgunaan. Sebagai anggota Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), Nusron menyampaikan bahwa negara telah berhasil menguasai kembali kawasan hutan seluas 4,09 juta hektare yang sebelumnya dimanfaatkan tidak sesuai ketentuan.

“Pemerintah telah menguasai kembali 4,09 juta hektare lahan hutan dari praktik penyalahgunaan. Selain itu, dilakukan pemulihan lingkungan melalui restorasi Taman Nasional Tesso Nilo seluas 81.793 hektare, yang merupakan habitat penting gajah, harimau sumatra, dan satwa endemik lainnya,” ujar Nusron Wahid usai konferensi pers pencabutan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (20/01/2026) malam.

Dari total kawasan hutan yang berhasil dikendalikan kembali, sekitar 900 ribu hektare ditetapkan sebagai kawasan hutan konservasi. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan, keanekaragaman hayati, serta sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim dan perlindungan ekosistem jangka panjang.

Tak hanya menyelamatkan kawasan hutan, Satgas PKH juga berhasil mengamankan aset negara senilai Rp6,62 triliun. Nilai tersebut terdiri dari Rp4,28 triliun hasil rampasan negara dari perkara tindak pidana korupsi, serta Rp2,34 triliun dari penagihan denda administratif atas pelanggaran pemanfaatan kawasan hutan.

Pasca terjadinya bencana hidrologi di sejumlah wilayah, Satgas PKH mempercepat audit di tiga provinsi. Pada Senin (19/01/2026), Presiden Republik Indonesia memimpin rapat terbatas secara daring dari London, Inggris. Dalam rapat tersebut, Satgas PKH melaporkan hasil investigasi terhadap sejumlah perusahaan yang terindikasi melakukan pelanggaran serius di kawasan hutan.

Berdasarkan laporan tersebut, Presiden memutuskan mencabut izin usaha 28 perusahaan yang terbukti melanggar ketentuan. Pencabutan izin mencakup 22 perusahaan pemegang PBPH di kawasan hutan alam dan hutan tanaman dengan total luas 1.010.592 hektare, serta 6 perusahaan di sektor pertambangan, perkebunan, dan Perizinan Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (PBPHHK).

Konferensi pers ini dipimpin oleh Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dan dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, di antaranya Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Jaksa Agung ST Burhanuddin, Wakil Panglima TNI Tandyo Budi Revita, Kepala BPKP Muhammad Yusuf Ateh, serta jajaran kementerian dan lembaga terkait lainnya.

Rabu, 21 Januari 2026

Baznas Lombok Timur Salurkan Rp440 Juta Insentif untuk 1.434 Guru TK dan PAUD

Penyaluran Bantuan Guru
Okenews.netBadan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Lombok Timur Bersama Pemda kembali menyalurkan dana zakat, infak, dan sedekah kepada para tenaga pendidik non ASN. Pada tahap pertama Tahun 2026, Baznas menyalurkan insentif senilai Rp440 juta kepada 1.434 Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) di jenjang TK, PAUD, dan Kelompok Bermain (KB).

Penyaluran insentif tersebut dilaksanakan di Halaman Kantor Bupati Lombok Timur, Rabu (21/01/2026), dengan melibatkan Pemerintah Daerah Kabupaten Lombok Timur sebagai mitra strategis dalam pendistribusian dana umat.


Ketua Baznas Lombok Timur, H. Muhamad Kamli, menjelaskan bahwa para penerima manfaat berasal dari tujuh kecamatan, yakni Terara, Labuhan Haji, Sakra, Sakra Timur, Sakra Barat, Keruak, dan Jerowaru.


“Insentif ini bersumber dari zakat, infak, dan sedekah para muzaki yang disalurkan melalui Baznas Lombok Timur. Amanah ini kami kembalikan kepada mereka yang berhak, khususnya guru non ASN yang selama ini berjuang di pendidikan usia dini,” ujarnya.


Menurut Kamli, guru TK dan PAUD merupakan kelompok strategis yang perlu mendapat perhatian karena berperan besar dalam pembentukan karakter anak sejak usia dini, meskipun sering berada dalam keterbatasan ekonomi.


Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin dan Wakil Bupati H. Moh. Edwin Hadiwijaya. Dalam kesempatan itu, Bupati memberikan apresiasi berupa hadiah umrah kepada seorang guru PAUD yang telah mengabdi selama lebih dari dua dekade, sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi panjang dalam dunia pendidikan.


Baznas Lombok Timur berharap penyaluran insentif ini dapat memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan zakat serta mendorong sinergi berkelanjutan antara Baznas, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan guru dan kualitas pendidikan di Lombok Timur.


Bupati Lotim Tegaskan Perhatian untuk Guru PAUD, Insentif Disalurkan hingga Hadiah Umrah

Penyaluran Intensif Bagi Guru, Non (GTT) (PTT) (PPPK)

Okenews.netPemerintah Kabupaten Lombok Timur kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya guru pendidikan anak usia dini. Melalui sinergi bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Pemkab Lombok Timur menyalurkan insentif bagi Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) non PPPK dan non sertifikasi Tahun 2026.


Penyaluran insentif tersebut berlangsung di Halaman Kantor Bupati Lombok Timur, Rabu (21/01/2026), dan dihadiri langsung oleh Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin didampingi Wakil Bupati H. Moh. Edwin Hadiwijaya, serta jajaran OPD terkait.


Dalam sambutannya, Bupati Haerul Warisin menyampaikan penghargaan tinggi kepada para guru TK dan PAUD yang telah mengabdikan diri dengan penuh keikhlasan. Menurutnya, guru PAUD memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan akhlak generasi masa depan Lombok Timur.


“Guru paling teladan adalah guru TK dan PAUD. Mereka mengajar dengan sabar dan ikhlas. Jasa mereka tidak kecil, meski sering luput dari perhatian,” tegas Bupati.


Ia mengakui bahwa nilai insentif yang diberikan belum sebanding dengan pengorbanan para guru. Namun, bantuan tersebut diharapkan mampu meringankan beban sekaligus menjadi penyemangat dalam menjalankan tugas mulia di dunia pendidikan.


Pada kesempatan itu, Bupati Lombok Timur juga memberikan hadiah umrah kepada Guru Kasturi, seorang guru PAUD yang telah mengabdi selama 21 tahun di KB Tulus Ate, Dusun Kembang Kuning, Desa Banjar Sari. Penghargaan tersebut menjadi simbol perhatian pemerintah daerah terhadap dedikasi panjang tenaga pendidik non ASN.


Pemkab Lombok Timur berharap, langkah ini dapat memperkuat kolaborasi dengan Baznas dan masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan guru serta kualitas pendidikan usia dini di daerah.

Selamat Hari Korpri

Pendidikan

Hukum

Ekonomi