Ngaji Budaya: Guru Muhir Membaca Jejak Nabi melalui Tembang dan Manuskrip Sasak
![]() |
| Founder Depok Literasi Institut Guru Muhir |
Melalui tembang yang
disarikan dari naskah kuno Kartanah, budayawan Sasak Guru Muhir mengajak
menelusuri jejak Nabi Muhammad dalam khazanah intelektual masyarakat Sasak yang
telah lama hadir.
Kajian bertajuk “Ngaji
Budaya” itu menghadirkan cara berbeda dalam memperingati Maulid Nabi. Guru
Muhir memadukan referensi keagamaan, filsafat ilmu, syair, tembang macapat, dan
manuskrip Sasak dalam penyampaian materinya.
Bagi masyarakat Sasak,
Maulid menjadi tradisi keagamaan, ungkapan kecintaan kepada Rasulullah, dan
wujud rasa syukur sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Melalui “Ngaji Budaya”,
peringatan tersebut berkembang menjadi ruang untuk membaca kembali warisan
intelektual Sasak.
Salah satu sumber yang
dibahas Guru Muhir ialah naskah Kartanah. Manuskrip itu memuat kisah dan
pemaknaan mengenai Nabi Muhammad sebelum kelahirannya hingga narasi kosmologis
sebelum penciptaan alam semesta.
“Dalam naskah Kartanah
itu memuat kisah dan pemaknaan mengenai apa, siapa, dan bagaimana Nabi Muhammad
sebelum kelahiran beliau, bahkan sebelum terciptanya alam semesta,” jelas Guru
Muhir.
Kandungan Kartanah
kemudian diperkenalkan kepada peserta melalui tembang. Pilihan tersebut membuat
materi yang cukup berat terasa lebih dekat karena disampaikan menggunakan
bahasa, irama, dan tradisi tutur yang akrab dalam kebudayaan Sasak.
Tembang juga menjadi
jembatan antara teks lama dan pendengar masa kini. Pengetahuan yang tersimpan
dalam manuskrip memperoleh ruang untuk kembali dibaca, dituturkan, dan
dipelajari oleh generasi sekarang.
Guru Muhir selanjutnya
mengajak peserta memahami Nabi Muhammad melalui tiga landasan filsafat ilmu,
yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Istilah-istilah tersebut
diterjemahkan ke dalam tiga pertanyaan pokok, siapa Nabi Muhammad, bagaimana
pengetahuan mengenai beliau diperoleh, dan apa arti ajarannya bagi kehidupan
manusia.
Perspektif ontologi
digunakan untuk membahas hakikat Nabi Muhammad SAW. Perspektif epistemologi
menelusuri sumber serta proses pewarisan pengetahuan mengenai Rasulullah, semntara
perspektif aksiologi mengarahkan kajian pada nilai, manfaat, dan relevansi
keteladanan Nabi Muhammad dalam kehidupan.
Untuk memperkuat
pemaparannya, Guru Muhir memperlihatkan manuskrip lama bertuliskan aksara
Jejawan dan Pègon. Peserta dapat melihat sumber tertulis yang merekam
perjumpaan antara ajaran Islam, bahasa, sastra, dan kebudayaan Sasak.
“Jejawan dan Pègon
menyimpan peran penting dalam perjalanan literasi masyarakat Sasak. Melalui
aksara tersebut, berbagai pengetahuan dicatat dan diwariskan,” ujar Founder
Repok Literasi Institut itu.
Rujukan terhadap
manuskrip juga membawa memasuki kajian lintas bidang. Agama memberi dasar
pemaknaan, filsafat membantu menyusun pertanyaan, bahasa dan sastra menjadi
medium penyampaian, sedangkan manuskrip menyediakan jejak pengetahuan dari masa
lalu.
Mantan Bupati Lombok Timur Ali Bin Dachlan turut hadir. Ia
menilai pemaparan Guru Muhir memberikan sudut pandang berbeda dalam memahami
Maulid Nabi. Baginya, kajian budaya yang membahasan khazanah manuskrip Sasak perlu
dilakukan.
Kegiatan kemudian
ditutup dengan diskusi terbuka. Peserta mengajukan pertanyaan dan mendiskusikan
hubungan antara Nabi Muhammad, tradisi keilmuan Islam, dan kebudayaan Sasak.
Selain Guru Muhir,
kegiatan tersebut menghadirkan penceramah asal Lombok Timur, TGH Latif.
Mahasiswa, akademisi, jajaran YSM, Ali Dahlan Center, karyawan BSK, serta
sejumlah aktivis dan tokoh lembaga swadaya masyarakat di Lombok Timur turut
hadir.
.png)
















